Minggu, 10 Mei 2009

EPIDEMIOLOGI, PROGRAM PENANGGULANGAN, DAN ISU MUTAKHIR DIABETES MELLITUS

ABSTRACT

DM adalah penyakit tidak menular degenerative yang terjadi hampir disemua organ tubuh. DM sering juga di sebut the great imitator. Dimana kadar gula darah lebih tinggi dari biasa/normal (60 mg/dl - 145 mg/dl), ini disebabkan karena gula tidak dapat memasuki sel-sel dikarenakan kekurangan atau resisten terhadap insulin. Metode: pengamatan ini dilakukan dengan cara study pustaka pada beberapa jurnal penelitian DM. Tujuan: dari pengamatan ini adalah untuk melihat dan menggambarkan epidemiologi DM serta mengidentuifikasi saran-saran dari peneliti untuk dapat melanjutkan penelitian yang direkomendasikan secara alamiah dengan melihat berbagai literatur dan penelitian-penelitian yang telah di lakukan untuk menguirangi risiko meningkatnya DM di Indonesia. Kesimpulan: dari pengamatan ini adalah, peningkatan prevalensi DM didasari oleh pola herediter dan life style yang dimana laki-laki dan perempuan hampir sama hanya berbeda pada umur 70-80 tahun Rekomendasi: Masih perlu dilakukan penelitian tentang DM, dan pembahasan tentang penyakit tidak menular lainnya sehingga pencegahan penyakit tersebut dapat diupayakan lebih dini.Kata Kunci : DM, endokrin.

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah yang sangat substansial, mengingat pola kejadian sangat menentukan status kesehatan di suatu daerah dan juga keberhasilan peningkatan status kesehatan di suatu negara. Secara global WHO (World Health Organization) memperkirakan PTM menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di seluruh dunia. Perubahan pola struktur masyarakat dari agraris ke industri dan perubahan pola fertilitas gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat diduga sebagai hal yang melatarbelakangi prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM), sehingga kejadian penyakit tidak menular semakin bervariasi dalam transisi epidemiologi. Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Diabetes Mellitus sering disebut sebagai the great imitator, karena prnyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi dan dapat timbul secara perlahan-lahan, sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil ataupun berat badan yang menurun. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, samapai kemudian orang tersebut pergi ke dokter untuk memeriksakan kadar glukosa darahnya. Pada tahun 1992, lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita DM dan pada tahun 2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta yang merupakan 6% dari populasi dewasa. Amerika Serikat jumlah penderita Diabetes Mellitus pada tahun 1980 mencapai 5,8 juta orang dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 13,8 juta orang. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita. Berdasarkan data Departemen Kesehatan jumlah pasien Diabetes Mellitus rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama dari seluruh penyakit endokrin dan 4% wanita hamil menderita Diabetes Gestasional (www.depkes.go.id). Data Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni) dari berbagai penelitian epidemiologis sebagaimana diungkapkan Ketua Pengurus Besar Perkeni dr Sidartawan Soegondo SpPD KE menunjukkan, sekitar tahun 1980-an prevalensi diabetes pada penduduk di atas usia 15 tahun adalah 1,5-2,3%. Penelitian tahun 1991 di kota Surabaya mendapatkan prevalensi 1,43% pada penduduk di atas 20 tahun. Di pedesaan Jawa Timur tahun 1989, prevalensinya 1,47%. Hasil penelitian di Jakarta menunjukkan adanya peningkatan prevalensi diabetes dari 1,7% (1982) menjadi 5,7% (1993). Sementara di Depok dan Jakarta, tahun 2001 angkanya 12,8%. Prevalensi diabetes di Makassar meningkat dari 1,5% (1981) menjadi 2,9% (1998). Rumusan masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah distribusi penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia?

2. Bagaimanakah frekuensi penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia?

3. Bagaimanakah determinan penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia?

4. Program apakah yang diterapkan dalam menanggulangi masalah penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia?

5. Apa isu mutakhir tentang penyakit Diabetes Mellitus?

Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran epidemiologi, program penanggulangan, dan isu terbaru tentang penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui distribusi penyaka.

b. Untuk mengetahui frekuensi penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia.

c. Untuk mengetahui determinan penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia.

d. Untuk mengetahui program yang diterapkan dalam menanggulangi penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia.

e. Untuk mengetahui isu mutakhir tentang penyakit Diabetes Mellitus.

Manfaat penulisan

1. Manfaat praktisDiharapkan makalah ini dapat menjadi sumber informasi terbaru untuk para analisdalam melakukan penelitian dan juga pihak terkait agar dapat membuat program-program yang akurat untuk mengatasi masalah Diabetes Mellitus khususnya di Indonesia.

2. Manfaat keilmuanDiharapkan dapat menjadi kajian dan acuan serta bahan bacaan dalam studi literatur dalam konteks penelitian.

3. Manfaat bagi penulisPenulis dapat menambah wawasan tentang penyakit Diabetes Mellitus dan mampu mempelajari serta mancari tahu atau dapat meneliti hal-hal yang dianggap dapat berhubungan dengan penyakit Diabetes Mellitus.

PEMBAHASAN

A. Epidemiologi Diabetes Mellitus (DM)

Frekuensi

Tabel 110

Penyakit Utama Penyebab Kematian Di Rumah Sakit Di Indonesia Tahun 2002

No Jenis Penyakit %

1. Stroke, tanpa pendarahan 5,9

2. Pneumonia 3,5

3. Demam tifoid 3,5

4 Tuberkulosis paru 3,3

5. Pendarahan intracranial 3,1

6 . Diabetes Mellitus 3,0

7. Pertumbuhan janin lamban, malnutrisi janin,

dan gangguan yang berhubungan dengan

kelainan prematur 3,0

8. Trauma (klasifikasi lainnya) 3,0

9. Penyakit jantung (klasifikasi lainnya) 2,9

10. Gagal ginjal (klasifikasi lainnya) 2,9

Sumber: Ditjen Yanmedik, Depkes RI

Tabel 1 menunjukkan bahwa penyakit Diabetes Mellitus berada di urutan keenam dengan prevalensi sebesar 3,0% dari 10 penyakit utama yang ada di rumah sakit yang menjadi penyebab utama kematian.

Tabel 2

Distribusi Penyakit Diabetes Mellitus dan Penyakit Metabolik Lainnya Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Tahun 2005

No Penyakit Jumlah Kasus Jumlah Mati CFR (%)

1. Diabetes Mellitus 42.000 3.316 7,9

2. Tiroktosikosis 913 67 7,3

3. Gangguan kelenjar

tyroid lainnya 4.065 148 3,6

4. Penyakit endokrin

dan metabolic lainnya 9.912 823 8,3

Sumber : Statistik RS.Indonesia Edisi Tahun 2005, Ditjen Yanmed Depkes RI

Tabel 2 menunjukkan bahwa kematian akibat penyakit di pasien rawat inap rumah sakit tertinngi disebabkan oleh penyakit Diabetes Mellitus yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan CFR 7,9%.

Jadi berdasarkan kedua tabel diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun penyakit Diabetes Mellitus berada di urutan keenam dari 10 penyakit yang dapat penyebabkan kematian di rumah sakit Indonesia tetapi Diabetes Mellitus berada diurutan pertama penyebab kematian di pasien rawat inap rumah sakit.

Distribusi

a. Distribusi menurut orang

Berdasarkan proses timbulnya penyakit Diabetes Mellitus dapat disimpulkan bahwa orang yang berisiko mengalami Diabetes Mellitus adalah mereka yang memiliki riwayat Diabetes dari keluarga. Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40-an dan mengalami kegemukan (obesitas).dan tidak aktif. Sedangkan pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja , salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus.

Grafik 1Perkiraan Jumlah Orang Dewasa Dengan Diabetes Mellitus Menurut Kelompok Umur Untuk Negara Maju dan Negara Berkembang Tahun 2000 dan 2030

Sumber : Data Sekunder

Diagram 1 menunjukkan bahwa di Negara maju orang dewasa yang berisiko untuk terkena Diabetes Mellitus adalah yang berumur 65 tahun ke atas sedangkan di Negara berkembang orang dewasa yang berisiko terkena Diabetes Mellitus adalah umur 46-64 tahun.

Grafik2

Prevalensi Diabetes Mellitus Global Menurut Jenis Kelamin dan Umur Tahun 2000 Sumber : Data Sekunder Grafik 2 menunujukkan bahwa prevalensi kejadian Diabetes Mellitus untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir sama hanya berbeda pada umur 70-80 tahun

Distribusi menurut tempat

Tabel 3

Prevalensi Kejadian Diabetes Mellitus Di Beberapa Negara Tahun 2000 dan 2030

No Rangking Negara Orang dengan DM Rangking negara Orang dengan DM

tahun 2000 (juta) tahun 2030 (juta)

1. India 31,7 India 79,4

2 Cina 20,8 Cina 42,3

3. Amerika Serikat 17,7 Amerika Serikat 30,3

4. Indonesia 8,4 Indonesia 21,3

5. Jepang 6,8 Pakistan 13,9

6. Pakistan 5,2 Brazil 11,3

7. Federasi Rusia 4,6 Banglades 11,1

8. Brazil 4,6 Jepang 8,9

9. Italia 4,3 Filipina 7,8

10. Banglades 3,2 Mesir 6,7

Sumber :Data Sekunder

Tabel 3 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat keempat dengan penderita terbesar di dunia yaitu 8,4 juta orang pada tahun 2000 dan diperkirakan terus meningkat dari taun ke tahun yaitu sebanyak 21, 3 juta orang penderita Diabetes Mellitus. c. Distribusi menurut waktuLamanya seseorang menderita penyakit dapat memberikan gambaran mengenai tingkat patogenesitas penyakit tersebut. Peningkatan angka kesakitan Diabetes Mellitus dari waktu ke waktu lebih benyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. Komplikasi Diabetes Mellitus dengan penyakit lain terkait dengan lamanya seseorang menderita Diabetes Mellitus, semakin lama seseorang menderita Diabetes Mellitus maka komplikasi penyakit Diabetes Mellitus juga akan lebih mudah terjadi. 3. Determinan

Berbagai hal dapat menjadi penyebab terjadinya penyakit Diabetes Mellitus diantaranya adalah :

1. Obesitas (kegemukan)Terdapat korelasi bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah, pada derajat kegemukan dengan IMT> 23 dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah menjadi 200mg%.

2. HipertensiPeningkatan tekanan darah pada hipertensi erat kaitannya dengan tidak tepatnya penyimpanan garam dan air, atau meningkatnya tekanan dari dalam tubuh pada sirkulasi pembuluh darah perifer.

3. Riwayat keluarga Diabetes MellitusSeorang yang menderita Diabetes Mellitus diduga mempunyai gen diabetes. Diduga bahwa bakat diabetes merupakan gen resesif. Hanya orang yang bersifat homozigot dengan gen resesif tersebut yang menderita Diabetes Mellitus.

4. DislipedimiaAdalah keadaan yang ditandai dengan kenaikan kadar lemak darah (Trigliserida > 250 mg/dl). Terdapat hubungan antara kenaikan plasma insulin dengan rendahnya HDL (<>

5. UmurBerdasarkan penelitian, usia yang terbanyak terkena Diabetes Mellitus adalah > 45 tahun.

6. Riwayat persalinanRiwayat abortus berulang, melahirkan bayi cacat atau berat badan bayi > 4000 gram.

B. Program penanggulangan penyakit Diabetes Mellitus di Indonesia.

Program pencegahan primer di Indonesia telah dilaksanakan oleh PT.Merck Indonesia Tbk bekerja sama dengan Depkes RI dan organisasi profesi (PERKENI) dan organisasi kemasyarakatan (PERSADI dan PEDI) yaitu program bertajuk Pandu Diabetes dengan simbol Titik Oranye. Melakukan kegiatan-kegiatan antara lain memberikan informasi dan edukasi mengenai Diabetes Mellitus dan pemeriksaan kadar gula darah secara gratis bagi sejuta orang yang telah diluncurkan oleh Menkes pada 15 Maret 2003. Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadillah Supari, Sp. JP(K) akan membentuk direktorat baru di Departemen Kesehatan untuk menangani Penyakit Tidak Menular (PTM )karena berdasarkan data Depkes untuk jumlah pasien Diabetes rawat inap maupun rawat jalan di rumah sakit menempati urutan pertama untuk seluruh penyakit endokrin.(Depkes,2005)Terdapat klinik kaki diabetes di salah satu rumah sakit milik pemerintah yang merupakan bentuk layanan yang diberikan bagi penderita diabetes. Ini salah satu bentuk perhatian pemerintah kepada penderita Diabetes Mellitus mengingat penderita Diabetes sangant rentan untuk terkena infeksi, hal ini juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi amputasi kaki akibat pekait Diabetes Mellitus. Federasi Diabetes Internasional (IDF) mengeluarkan pernyataan konsensus baru mengenai pencegahan diabetes, menjelang resolusi Majelis Umum PBB pada bulan Desember 2006 yang menghimbau aksi internasional bersama. Konsensus IDF baru ini merekomendasikan bahwa semua individu yang beresiko tinggi terjangkiti diabetes tipe-2 dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan oportunistik oleh dokter, perawat, apoteker dan dengan pemeriksaan sendiri. Profesor George Alberti, mantan presiden IDF sekaligus penulis bersama konsensus baru IDF mengatakan: “Terdapat banyak bukti dari sejumlah kajian di Amerika Serikat, Finlandia, Cina, India dan Jepang bahwa perubahan gaya hidup (mencapai berat badan yang sehat dan kegiatan olahraga yang moderat) dapat ikut mencegah berkembangnya diabetes tipe-2 pada mereka yang beresiko tinggi (2-6). Konsensus baru IDF ini menganjurkan bahwa hal ini haruslah merupakan intervensi awal bagi semua orang yang beresiko terjangkiti diabetes tipe-2, dan juga fokus dari pendekatan kesehatan penduduk.” (SUMBER: Federasi Diabetes Internasional)

C. Isu Mutakhir

Isu mutakhir tentang penyakit Diabetes Mellitus adalah :

1. Adanya hubungan timbal balik antara periodontitis (infeksi pada mulut) dengan Diabetes Mellitus, keterlibatan dokter gigi dalam penanganan pasien Diabetes Mellitus perlu ditingkatkan. (Saidina Hamzah Daliemunthe,2003)

2. Dokter gigi dituntut untuk lebih aktif memposisikan diri sebagai mitra dokter umum/dokter spesialis dalam penanganan pasien Diabetes Mellitus. (Saidina Hamzah Daliemunthe,2003)

3. Perlu adanya perlindungan kepada obat tradisional untuk penyakit Diabetes Mellitus agar tetap asli dari tanaman obat dan tidak diberi tambahan zat kimia. (Siti Sapardiyah Santoso, 2003)

4. Perlu dipelajari lebih lanjut dengan mengadakan pendekatan kasus dengan metode penelitian yang khusus pula mengapa penderita IDDM dapat bertahan hidup selama 1 minggu tanpa insulin dengan melalui penggantian insulin atau adaptasi. (Haryadi Suparto, 2004)

5. Obat anti Diabetes oral sebaiknya tidak diberikan pada Diabetes Mellitus dengan Tuberkulosis paru karena adanya efek rifampicin dan isoniazid yang mengurangi efek obat tersebut. (Harsinen Sanusi, 2004)

6. Kadar glukosa darah yang terkontrol pada penderita Diabetes Mellitus dapat menurunkan derajat kegoyahan gigi sebesar 51,45%. (Md Ayu Lely S, 2004)

7. Melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan bahan aktif yang diisolasi dari buah mengkudu untuk mengetahui efeknya dalam menurunkan kadar gula darah. (Ramadhani RB,2001)

8. Perlu dikembangkan kegiatan di kelompok-kelompok masyarakat guna meningkatkan pengetahuan kesehatan terutama gizi, sehingga masyarakat mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk menangani masalah kesehatan yang dihadapinya. (Yuli Kusumawati, 2006)

9. Perlunya melakukan penelitian isolasi kandungan Eugenia Polyantha dan menguji khasiat hipoglikemianya untuk menurunkan kadar glukosa darah. (Herra Studiawan,2004)

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Diabetes Mellitus merupakan penyebab kematian tertinggi di bagian instalasi rawat inap di rumah sakit di Indonesia yaitu sebanyak 3.316 kematian dengan CFR 7,9%.

2. Indonesia merupakan negara keempat setelah India, Cina dan Amerika Serikat sebagai penderita penyakit Diabetes Mellitus dengan persentase 8,4 di tahun 2000 dan diperkirakan akan bertambah persentasenya di tahun 2030 sebesarnya 21,3%.

3. Penyebab utama terjadi Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh tidak terkontrolnya glukosa darah akibat factor kegemukan, hipertensi, pengetahuan, life style, dan sebagainya.

4. Program Departemen Kesehatan untuk penanggulangan Diabetes Mellitus adalah pemeriksaan kadar gula darah secara gratis bagi sejuta orang.

  1. Saran/ Rekomendasi1.

Penanganan penyakit Diabetes Mellitus agar kiranya dapat benar-benar ditangani secara serius, sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat penyakit Diabetes Mellitus.2. Perlu adanya penyuluhan yang lebih responsible tentang pentingnya kontrol gula darah di setiap individu yang mempunyai faktor risiko

Tidak ada komentar:

Produk OP

Produk OP
below knee prosthesis (indosceletal)

Produk OP

Produk OP
through elbow prosthesis

TEKNIK - TEKNIK FITNESS untuk TRICEPS


Cable Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi berlutut dengan tangan memegang rope
Posisi lengan merapat ke kepala tidak bergerak
Badan sedikit membungkuk
Pinggang tidak bergerak
Tekuklah perut seperti posisi menyembah
Tarik nafas saat posisi gambar 1 dan hembuskan nafas saat posisi gambar 2


Center Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur terlentang dengan kaki dinaikkan ke bangku
Kedua tangan berada di samping kepala
Kaki dirapatkan
Tekuklah perut dengan pinggang tetap tidak bergerak
Tarik nafas saat tidur dan hembuskan nafas saat menekuk perut

____________________________________________________________________________________
Crossover Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur terlentang
Posisi kaki kiri ditekuk dengan telapak kaki tetap menempel di lantai
Posisi kaki kanan disilangkan ke kaki kiri
Posisi tangan kiri berada di samping kepala dan tangan kanan di samping badan
Gerakkan siku tangan kiri ke arah lutut kaki kanan
Tarik nafas saat tidur dan hembuskan nafas saat menekuk perut
Ulangi dengan posisi sebaliknya

____________________________________________________________________________________
Decline Bench Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Duduklah di bangku decline bench crunch
Kaki dikaitkan pada bantalan yang tersedia
Tangan berada di samping kepala
Posisi badan sejajar dengan paha
Tekuklah perut tanpa menggerakkan pinggang
Tarik nafas saat tidur dan hembuskan nafas saat menekuk perut

____________________________________________________________________________________
Hip Thrust

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur terlentang
Kedua tangan ada di samping badan
Kaki lurus ke atas
Angkat pinggul hingga mendorong ujung kaki naik lebih tinggi lagi
Tarik nafas saat kaki naik dan hembuskan nafas saat kaki turun

____________________________________________________________________________________
Hanging Knee Raise

Tahapan Pelaksanaan:
Bergantungan dengan pegangan pada bar
Posisi lutut sedikit ditekuk
Ujung lutut menghadap ke bawah
Tekuklah pinggul hingga ujung lutut menghadap ke depan dan paha sejajar dengan lantai
Tarik nafas saat lutut naik dan hembuskan nafas saat lutut turun

____________________________________________________________________________________
Hanging Leg Raise

Tahapan Pelaksanaan:
Bergantungan dengan pegangan pada bar
Posisi lutut sedikit ditekuk
Kaki mengarah ke bawah
Tekuklah pinggul hingga paha naik sejajar dengan lantai
Tarik nafas saat kaki naik dan hembuskan nafas saat kaki turun

____________________________________________________________________________________
Lying Knee Raise

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur
Kaki lurus dengan lutut sedikit ditekuk
Paha hampir sejajar dengan badan
Tangan berpegangan pada bangku
Tekuk pinggul anda hingga lutut ikut naik
Tarik nafas saat lutut naik dan hembuskan nafas saat lutut turun

____________________________________________________________________________________
Lying Leg Raise

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur
Kaki lurus dengan lutut sedikit ditekuk
Ujung dikaki sedikit diangkat lebih tinggi dari posisi badan
Tangan berpegangan pada bangku
Ujung kaki digerakkan ke depan perut sehingga kaki lurus ke atas
Tarik nafas saat kaki naik dan hembuskan nafas saat kaki turun

____________________________________________________________________________________
Reverse Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur dengan posisi tangan di samping badan
Pandangan ke atas
Kaki sedikit diangkat dengan posisi lutut ditekuk
Tekuk perut bersamaan dengan pinggul diangkat hingga ujung kaki bergerak naik
Tarik nafas saat kontraksi dan hembuskan nafas saat relax

____________________________________________________________________________________
Straight Leg Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur dengan posisi tangan di samping kepala
Pandangan ke atas
Kaki sedikit diangkat dengan posisi lutut ditekuk
Tekuk perut dengan posisi pinggul tetap tidak bergerak
Tarik nafas saat kontraksi dan hembuskan nafas saat relax

____________________________________________________________________________________
Side Crunch

Tahapan Pelaksanaan:
Posisi tidur sesuai gambar
Paha kaki kanan menempel pada lantai dan lutut ditekuk ke dalam
Kaki kiri berada di depan lutut kaki kanan
Posisi tangan kanan dibentangkan lurus ke kanan
Posisi tangan kiri berada di samping kepala
Posisi kepala rebah
Perut ditekuk ke arah depan
Tarik nafas saat kontraksi dan hembuskan nafas saat relax

____________________________________________________________________________________
Plank

Tahapan Pelaksanaan:
Rebahlah di atas matras seperti yang terlihat pada gambar
Regangkan dan angkat tubuh Anda
Tahan posisi tersebut selama kurang lebih 30 detik, jaga agar otot perut terkontraksi
Kembali ke posisi awal

____________________________________________________________________________________
Side Plank

Tahapan Pelaksanaan:
Rebahkan tubuh bagian samping dengan tangan kanan sebagai penyanggah tubuh
Gunakan sikut Anda sebagai penyangga tubuh, atur posisi tubuh seperti terlihat pada gambar
Angkat tubuh Anda ke atas, sehingga tubuh Anda benar-benar lurus
Tahan posisi ini selama kurang lebih 30 detik sebelum kembali ke posisi awal
Lakukan untuk bagian tubuh lainnya

____________________________________________________________________________________
Lower Back

Tahapan Pelaksanaan:
Berebahlah pada matras seperti tampak pada gambar
Perlahan angkat tubuh Anda ke atas, gunakan kaki sebagai penahan untuk dapat mengangkat tubuh Anda
Tahan selama beberapa detik ketika posisi tubuh di atas, kemudian ulangi untuk repetisi berikutnya

apa ortotik prostetik diperlukan di setiap Rumah Sakit?

penemu OP di Indonesia

penemu OP di Indonesia
Prof. Dr. R. Soeharso